A. Consumption and Saving.
Macroeconomics is the study of the behaviour of the overall economy. It is natural that we turn to an analysis of the largest components of GDP, consumption and investment. Recall that consumption consist of spending households on final goods and services, including durable goods like furniture, nondurables like food, and service like education. Investment, on the other hand, is composed of produced goods that are used for further production, including equipment like power looms, structures like houses or factories, and inventories like cars on dealer’s lots. Consumption is the largest single component of GDP. What are the major elements of consumption? Among the most important categories are housing, motor vehicles, foods, and medical care.
Makroekonomi adalah studi tentang perilaku ekonomi secara keseluruhan. Hal ini alami sehingga kita beralih kepada suatu analisis terhadap komponen terbesar dari GDP, konsumsi dan investasi. Disebut kembali bahwasannya konsumsi termasuk pengeluaran rumah tangga terhadap barang akhir dan jasa, termasuk barang tahan lama seperti furniture, barang tidak tahan lama seperti makanan, dan jasa seperti pendidikan.
Investasi, dalam pengertian lain, adalah terdiri atas barang produksi yang digunakan untuk produksi selanjutnya, termasuk peralatan seperti mesin tenun, gedung seperti rumah dan pabrik, dan peralatan seperti mobil di dealer.
Konsumsi adalah komponen terbesar dalam GDP. Apakah unsur terutama dari konsumsi? Beberapa kategori pentingnya ialah seperti perumahan, kendaraan bermotor, makanan, dan perawatan medis.
Budgetary Expenditure Patterns (Pola-pola Pengeluaran Anggaran)
Poor families must spend their incomes largely on the necessities of life, food and shelter. As income increases, expenditure on many food items goes up. People eat more and eat better. They shift away from cheap, bulky carbohydrates to more expensive meats, fruits, and vegetables. There are, however, limits to the extra money people will spend on food when their incomes rise. Consequently, the proportion of total spending devoted to food declines as income increases.
Keluarga miskin harus mengeluarkan pendapatan mereka lebih besar pada kebutuhan hidup, makanan dan perumahan. Karena pendapatan meningkat, pengeluaran akan banyak barang makanan naik. Orang makan lebih banyak dan lebih baik. Mereka bergeser dari yang murah dari, karbohidrat yang besar menjadi daging yang lebih mahal, buah-buahan, dan sayur-sayuran. Akan tetapi, ada batasan terhadap uang ekstra yang akan dibelanjakan orang terhadap makanan ketika pendapatan mereka meningkat. Akibatnya, proporsi dari total pengeluaran diberikan untuk penurunan makanan saat pendapatan naik.
Konsumsi adalah pengeluaran oleh rumah tangga atas barang jadi dan jasa.
Tabungan adalah bagian dari pendapaatn pribadi setelah pajak yang tidak dikonsumsi.
Konsumsi, Pendapatan, dan Tabungan
Tabungan Pribadi adalah bagian dari pendapatan setelah pajak yang tidak dikonsumsi, tabungan sama dengan pendapatan dikurangi konsumsi. Kajian ekonomi telah menunjukkan bahwa pendapatyan merupakan penentu utama dari konsumsi dan tabungan. Hubungan ini ditunjukkan dengan :
- Fungsi Konsumsi menghubungkan Konsumsi dan Pendapatan
- Fiungsi Tabungan menghubungkan tabungan dengan pedapatan
Fungsi Konsumsi
Fungsi Konsumsi menunjukkan hubungan antara tingakat pengeluaran konsumsi dengan tingkat pendapatan pribadi yang siapa dibelanjakan. Kelebihan konsumsi atas pendapatan disebut dissaving.
Dalam grafik, pada titik manapun pada garis 45’, konsumsi sama persis dengan pendapatan dan rumah tangga memiliki tabungan nol. Keadaan ini disebut Break Even Point. Ketika fungsi konsumsi terletak diatas garis 45’, rumah tangga sendiri memiliki tabungan positif. Jumlah dissaving atau tabungan selalu diukur dengan jarak vertikal antara fungsi konsumsi dan gari 45’.
Fungsi Tabungan
Fungsi tabungan menunjukkan hunbungan antara tingkat tabungan dan pendapatan.
Kecenderungan Marginal Untuk Mengkonsumsi
Konsep ini disebut The Marginal Propensity to Comnsume atau MPC. MPC adalah jumlah ekstra yang dikonsumsi orang ketika mereka menerima dollar ekstra dari pendapatan setelah pajak.
Slope fungsi konsumsi, yang mengukur perubahan dalam konsumsi setiap perubahan dollar pada pendapata setelah pajak, merupakan kecenderungan marginal untuk mengkonsumsi.
Kecenderungan Marginal Untuk Menabung
Kecenderungan marginal untuk mengkonsumsi diiringi oleh bayangan cerminnya, The Marginal Propensity to Save atau MPS. Kecenderungan marginal untuk menabung didefinisikan sebagai bagian dari dollar ekstra dari pendapatan setelah pajak yang masuk ke tabungan ekstra.
Pada tingkat pendapatan berapapun, MPS dan MPC harus selalu berjumlah persis 1, tidak lebih tidak kurang. Dimanapun dan selalu MPS = 1 – MPC.
Perilaku konsumsi dan tabungan merupakan kunci untuk memahami pertumbuhan ekonomi dan siklus bisnis. Baik observasi maupun kajian statistik menunjukkan bahwa tingkat pendapatan setelah pajak saat ini merupakan faktor sentral yang menentukan konsumsi suatu negara.
Penentu lebih jauh yang penting dari jumlah konsumsi adalah kekayaan. Fakta bahwa kekayaan yang lebih tinggi menyebabkan konsumsi yang lebih besar disebut efek kekayaan.
Konsep Penting:
Marginal Propensity to Consume (MPC) adalah tambahan yang dikonsumsi orang ketika mereka menerima tambahan pendapatan.
Marginal Propensity to Save (MPS) diartikan sebagai bagian dari tambahan pendapatan yang menjadi tambahan tabungan.
MPC + MPS = 1
Marginal Propensity to Consume (MPC) adalah tambahan yang dikonsumsi orang ketika mereka menerima tambahan pendapatan.
Marginal Propensity to Save (MPS) diartikan sebagai bagian dari tambahan pendapatan yang menjadi tambahan tabungan.
MPC + MPS = 1
B. The Determinants of Investment.
Investment plays two roles in macroeconomics. First, because it is a large and volatile component of spending, sharp changes in investment can have a major impact on aggregate demand and thence on output and employment. In addition, investment leads to capital accumulation. We define investment as the addition to the community’s stock of tangible capital goods, capital goods being equipment, structures, or inventories. There is three elements essential to understanding investment: revenues, costs, and expectations.
An investment will bring the firm additional revenues only if investing allows the firm sell more. This suggests will be the overall level of output (GDP). A second important determinant of the level of investment is the cost of investing. When we examine cost of investment, however, we find that they are somewhat more complicated than the cost for other commodities like haircuts or movies. In addition, government taxes can affect the cost of investment. The third element in the determinant of investment is the state of expectations and bussines confidence. Thus investment decisions hang by a thread on expectations about future events, even worse, they ultimately hang on future events that are very hard to predict.
Government affect investment through active monetary policies, through tax programs, and through the general tone of microeconomics policies. In making investment decisions, the real interest rate is particularly relevant. The real rate of interest corrects the nominal interest rate of inflation. Thus, real interest rate = nominal interest rate – rate of inflation.
Investasi memainkan dua peran dalam ekonomi makro. Pertama, karena merupakan komponen pembelanjaan yang besar dan mudah berubah, perubahan yang tajam dalam investasi dapat menyebabkan dampak yang besar terhadap permintaan agregat dan memengaruhi output serta pengangguran Selain itu, investasi mengarah pada akumulasi modal. Kita mendefinisikan investasi sebagai tambahan terhadap akumulasi saham atas barang modal, barang modal seperti perlengkapan, bangunan, atau persediaan. Ada tiga unsur penting untuk memahami investasi: penerimaan, biaya, dan harapan (ekspektasi).
Investasi akan memberikan tambahan penerimaan perusahaan hanya jika kegiatan investasi membantu perusahaan menjual barang lebih banyak. Hal tersebut akan menghasilkan tingkat output secara keseluruhan. Faktor penentu kedua dari tingkat investasi adalah biaya investasi. Ketika kita menelaah biaya dari investasi, kita menemukan bahwa hal tersebut merupakan hal yang lebih sulit dibandingkan memperhitungkan biaya komoditas lain seperti pangkas rambut atau bioskop. Selain itu, pajak pemerintah dapat memengaruhi biaya invetasi. Faktor penentu ketiga yang memengaruhi investasi adalah sikap dari ekspektasi dan kepercayaan bisnis. Sehingga keputusan bisnis bergantung pada harapan di masa depan, meskipun buruk, mereka tetap bergantung pada hal tersebut yang sangat sulit diprediksi.
Pemerintah memengaruhi investasi dengan menggunakan kebijakan moneter, selain program pajak, dan juga unsur umum dari kebijakan makro. Dalam membuat keputusan investasi, tingkat suku bunga riil adalah ukurannya. Tingkat riil dari suku bunga mengkoreksi tingkat bunga nominal dari inflasi. Sehingga, tingkat suku bunga riil = tingkat bunga nominal – tingkat inflasi.
Determinant of Investment
1.Revenue
Invesatasi akan memberikan perusahaan revenue tambahan jika investasi itu membantu perusahaan menjual lebih banyak produk.
2. Biaya
Karena barang-barang investasi dapat bertahan selama bertahun-tahun, maka mempoerhitungkan biaya invesati agak lebih rumit daripada memperhitungkan biaya untuk komoditas yang lain
3. Ekspektasi
Elemen ketiga dalam penentu investasi adalah ekspektasi laba dan kepercayaan bisnis. Investasi, terutama sekali, merupakan spekulasi atas masa depan, suatu taruhan bahwa revenue dari suatu investasi akan melebihi biayanya.
Bisnis berinvesatasi untuk memperoleh laba. Karena barang modal dapat bertahan bertahun-tahun, keputusan investasi bergantung pada :
¨ Tingkat output yang dihasilkan oleh investasi baru.
¨ Suku bunga dan pajak yang mempengaruhi biaya investasi
¨ Ekspektasi bisnis mengenai keadaan perekonomian.
Untuk menunjukkan hubugan antara suku bunga dan investasi, para ekonom menggunakan skedul yang disebut kurva permintaan investasi.
Bergesernya Kurva Permintaan Investasi
Kurva permintaan investasi sumbu Y( ROI dan Interest Rate) Sumbu X (Investement Spending)
Semakin besar bergeser ke kanan karena GDP semakin tinggi /output semakin tinggi dan ekspektasi bisnis bagus sedangkan bergeser ke kiri (mengecil) karena pajak yang semakin tinggi pada pendapatan hasil investasi.