Sunday, October 9, 2016

Consumtion and Investment (Resume Chapter 6 / Chapter 21 Samuelson Ed19 English)

A. Consumption and Saving.
Macroeconomics is the study of the behaviour of the overall economy. It is natural that we turn to an analysis of the largest components of GDP, consumption and investment. Recall that consumption consist of spending households on final goods and services, including durable goods like furniture, nondurables like food, and service like education. Investment, on the other hand, is composed of produced goods that are used for further production, including equipment like power looms, structures like houses or factories, and inventories like cars on dealer’s lots. Consumption is the largest single component of GDP. What are the major elements of consumption? Among the most important categories are housing, motor vehicles, foods, and medical care.

Makroekonomi adalah studi tentang perilaku ekonomi secara keseluruhan. Hal ini alami sehingga kita beralih kepada suatu analisis terhadap komponen terbesar dari GDP, konsumsi dan investasi. Disebut kembali bahwasannya konsumsi termasuk pengeluaran rumah tangga terhadap barang akhir dan jasa, termasuk barang tahan lama seperti furniture, barang tidak tahan lama seperti makanan, dan jasa seperti pendidikan. 

Investasi, dalam pengertian lain, adalah terdiri atas barang produksi yang digunakan untuk produksi selanjutnya, termasuk peralatan seperti mesin tenun, gedung seperti rumah dan pabrik, dan peralatan seperti mobil di dealer. 

Konsumsi adalah komponen terbesar dalam GDP. Apakah unsur terutama dari konsumsi? Beberapa kategori pentingnya ialah seperti perumahan, kendaraan bermotor, makanan, dan perawatan medis.

Budgetary Expenditure Patterns (Pola-pola Pengeluaran Anggaran)
Poor families must spend their incomes largely on the necessities of life, food and shelter. As income increases, expenditure on many food items goes up. People eat more and eat better. They shift away from cheap, bulky carbohydrates to more expensive meats, fruits, and vegetables. There are, however, limits to the extra money people will spend on food when their incomes rise. Consequently, the proportion of total spending devoted to food declines as income increases.

Keluarga miskin harus mengeluarkan pendapatan mereka lebih besar pada kebutuhan hidup, makanan dan perumahan. Karena pendapatan meningkat, pengeluaran akan banyak barang makanan naik. Orang makan lebih banyak dan lebih baik. Mereka bergeser dari yang murah dari, karbohidrat yang besar menjadi daging yang lebih mahal, buah-buahan, dan sayur-sayuran. Akan tetapi, ada batasan terhadap uang ekstra yang akan dibelanjakan orang terhadap makanan ketika pendapatan mereka meningkat. Akibatnya, proporsi dari total pengeluaran diberikan untuk penurunan makanan saat pendapatan naik.

Konsumsi adalah pengeluaran oleh rumah tangga atas barang jadi dan jasa.
Tabungan adalah bagian dari pendapaatn pribadi setelah pajak yang tidak dikonsumsi.


Konsumsi, Pendapatan, dan Tabungan
Tabungan Pribadi adalah bagian dari pendapatan setelah pajak yang tidak dikonsumsi, tabungan sama dengan pendapatan dikurangi konsumsi. Kajian ekonomi telah menunjukkan bahwa pendapatyan merupakan penentu utama dari konsumsi dan tabungan. Hubungan ini ditunjukkan dengan :
  • Fungsi Konsumsi menghubungkan Konsumsi dan Pendapatan
  • Fiungsi Tabungan menghubungkan tabungan dengan pedapatan


Fungsi Konsumsi
Fungsi Konsumsi menunjukkan hubungan antara tingakat pengeluaran konsumsi dengan tingkat pendapatan pribadi yang siapa dibelanjakan. Kelebihan konsumsi atas pendapatan disebut dissaving.
Dalam grafik, pada titik manapun pada garis 45’, konsumsi sama persis dengan pendapatan dan rumah tangga memiliki tabungan nol. Keadaan ini disebut Break Even Point. Ketika fungsi konsumsi terletak diatas garis 45’, rumah tangga sendiri memiliki tabungan positif. Jumlah dissaving atau tabungan selalu diukur dengan jarak vertikal antara fungsi konsumsi dan gari 45’.


Fungsi Tabungan
Fungsi tabungan menunjukkan hunbungan antara tingkat tabungan dan pendapatan.



Kecenderungan Marginal Untuk Mengkonsumsi
Konsep ini disebut The Marginal Propensity to Comnsume atau MPC. MPC adalah jumlah ekstra yang dikonsumsi orang ketika mereka menerima dollar ekstra dari pendapatan setelah pajak.
Slope fungsi konsumsi, yang mengukur perubahan dalam konsumsi setiap perubahan dollar pada pendapata setelah pajak, merupakan kecenderungan marginal untuk mengkonsumsi.


Kecenderungan Marginal Untuk Menabung
Kecenderungan marginal untuk mengkonsumsi diiringi oleh bayangan cerminnya, The Marginal Propensity to Save atau MPS. Kecenderungan marginal untuk menabung didefinisikan sebagai bagian dari dollar ekstra dari pendapatan setelah pajak yang masuk ke tabungan ekstra.


Pada tingkat pendapatan berapapun, MPS dan MPC harus selalu berjumlah persis 1, tidak lebih tidak kurang. Dimanapun dan selalu MPS = 1 – MPC.


Perilaku konsumsi dan tabungan merupakan kunci untuk memahami pertumbuhan ekonomi dan siklus bisnis. Baik observasi maupun kajian statistik menunjukkan bahwa tingkat pendapatan setelah pajak saat ini merupakan faktor sentral yang menentukan konsumsi suatu negara.


Penentu lebih jauh yang penting dari jumlah konsumsi adalah kekayaan. Fakta bahwa kekayaan yang lebih tinggi menyebabkan konsumsi yang lebih besar disebut efek kekayaan.


Konsep Penting:
Marginal Propensity to Consume (MPC) adalah tambahan yang dikonsumsi orang ketika mereka menerima tambahan pendapatan.
Marginal Propensity to Save (MPS) diartikan sebagai bagian dari tambahan pendapatan yang menjadi tambahan tabungan.

MPC + MPS = 1

B. The Determinants of Investment.
Investment plays two roles in macroeconomics. First, because it is a large and volatile component of spending, sharp changes in investment can have a major impact on aggregate demand and thence on output and employment. In addition, investment leads to capital accumulation. We define investment as the addition to the community’s stock of tangible capital goods, capital goods being equipment, structures, or inventories. There is three elements essential to understanding investment: revenues, costs, and expectations.
An investment will bring the firm additional revenues only if investing allows the firm sell more. This suggests will be the overall level of output (GDP). A second important determinant of the level of investment is the cost of investing. When we examine cost of investment, however, we find that they are somewhat more complicated than the cost for other commodities like haircuts or movies. In addition, government taxes can affect the cost of investment. The third element in the determinant of investment is the state of expectations and bussines confidence. Thus investment decisions hang by a thread on expectations about future events, even worse, they ultimately hang on future events that are very hard to predict.
Government affect investment through active monetary policies, through tax programs, and through the general tone of microeconomics policies. In making investment decisions, the real interest rate is particularly relevant. The real rate of interest corrects the nominal interest rate of inflation. Thus, real interest rate = nominal interest rate – rate of inflation.

Investasi memainkan dua peran dalam ekonomi makro. Pertama, karena merupakan komponen pembelanjaan yang besar dan mudah berubah, perubahan yang tajam dalam investasi dapat menyebabkan dampak yang besar terhadap permintaan agregat dan memengaruhi output serta pengangguran Selain itu, investasi mengarah pada akumulasi modal. Kita mendefinisikan investasi sebagai tambahan terhadap akumulasi saham atas barang modal, barang modal seperti perlengkapan, bangunan, atau persediaan. Ada tiga unsur penting untuk memahami investasi: penerimaan, biaya, dan harapan (ekspektasi).

Investasi akan memberikan tambahan penerimaan perusahaan hanya jika kegiatan investasi membantu perusahaan menjual barang lebih banyak. Hal tersebut akan menghasilkan tingkat output secara keseluruhan. Faktor penentu kedua dari tingkat investasi adalah biaya investasi. Ketika kita menelaah biaya dari investasi, kita menemukan bahwa hal tersebut merupakan hal yang lebih sulit dibandingkan memperhitungkan biaya komoditas lain seperti pangkas rambut atau bioskop. Selain itu, pajak pemerintah dapat memengaruhi biaya invetasi. Faktor penentu ketiga yang memengaruhi investasi adalah sikap dari ekspektasi dan kepercayaan bisnis. Sehingga keputusan bisnis bergantung pada harapan di masa depan, meskipun buruk, mereka tetap bergantung pada hal tersebut yang sangat sulit diprediksi.

Pemerintah memengaruhi investasi dengan menggunakan kebijakan moneter, selain program pajak, dan juga unsur umum dari kebijakan makro. Dalam membuat keputusan investasi, tingkat suku bunga riil adalah ukurannya. Tingkat riil dari suku bunga mengkoreksi tingkat bunga nominal dari inflasi. Sehingga, tingkat suku bunga riil = tingkat bunga nominal – tingkat inflasi.

Determinant of Investment

1.Revenue
Invesatasi akan memberikan perusahaan revenue tambahan jika investasi itu membantu perusahaan menjual lebih banyak produk.

2. Biaya
Karena barang-barang investasi dapat bertahan selama bertahun-tahun, maka mempoerhitungkan biaya invesati agak lebih rumit daripada memperhitungkan biaya untuk komoditas yang lain

3. Ekspektasi
Elemen ketiga dalam penentu investasi adalah ekspektasi laba dan kepercayaan bisnis. Investasi, terutama sekali, merupakan spekulasi atas masa depan, suatu taruhan bahwa revenue dari suatu investasi akan melebihi biayanya.

Bisnis berinvesatasi untuk memperoleh laba. Karena barang modal dapat bertahan bertahun-tahun, keputusan investasi bergantung pada :
¨      Tingkat output yang dihasilkan oleh investasi baru.
¨      Suku bunga dan pajak yang mempengaruhi biaya investasi
¨      Ekspektasi bisnis mengenai keadaan perekonomian.

Untuk menunjukkan hubugan antara suku bunga dan investasi, para ekonom menggunakan skedul yang disebut kurva permintaan investasi.

Bergesernya Kurva Permintaan Investasi
Kurva permintaan investasi sumbu Y( ROI dan Interest Rate) Sumbu X (Investement Spending)

Semakin besar bergeser ke kanan karena GDP semakin tinggi /output semakin tinggi dan ekspektasi bisnis bagus sedangkan bergeser ke kiri (mengecil) karena pajak yang semakin tinggi pada pendapatan hasil investasi.

Saturday, October 8, 2016

Measuring Economic Activity (Resume Chapter 5 / Chapter 20 Samuelson Ed19 English)

Resume of Chapter 5 : Measurement of Economic Activity

1. Gross Domestic Product: The Yardstick of an Economy’s Performance 
(Produk Domestik Bruto: Ukuran Performa Ekonomi)

What is the Gross Domestic Product? It is the name we give to the total dollar value of the goods and services produced by a nation during a given year. GDP is used for many purposes, but the most important one is that it measures the overall performance of an economy. The gross domestic product (or GDP) is the most comprehensive measure of a nation’s total output of goods and services. It is the sum of the dollar value of consumption (C), investment (I), government purchases of goods and services (G), and net exports (X-M).

Apakah Produk Domestik Bruto itu? PDB adalah nama yang kita berikan untuk nilai uang (dalam buku dollar) total dari barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara dalam tahun tertentu. GDP digunakan untuk berbagai tujuan, namun salah satu tujuan terpentingnya adalah untuk mengukur keseluruhan performa ekonomi. GDP merupakan pengukuran yang paling luas dari total output barang dan jasa suatu negaraIni merupakan jumlah nilai dollar dari konsumsi (C), investasi (I), pembelanjaan pemerintah terhadap barang dan jasa (G), dan ekspor bersih (X-M).

GDP = C + I + G + X


2. Two Measures of National Product: Goods-Flow and Earnings-Flow. 
(Dua Ukuran Produk Nasional: Alur Barang dan Alur Penghasilan.)

GDP, or Gross Domestic Product, can be measured in two different ways : (1) as the flow of final products. The GDP is defined as the total money value of the flow of final product produced by the nation; (2) as the total costs or earnings of inputs producing output. The GDP is defined as the total of factor earnings (wages, interest, rents, and profit) that are the costs of producing society’s final products. Because profit is defined as a residual cost, both approaches will yield exactly the same total GDP.

GDP, atau Gross Domestik Produk, dapat diukur dalam dua cara : 
(1) sebagai arus produk jadi. GDP diartikan sebagai nilai uang total dari arus barang jadi yang diproduksi suatu negara; 
Dengan menghitung arus produk jadi, dapat dirumuskan dengan cara :

GDP = P+ P+ P+ P4 + ... + P n

(2) sebagai biaya total atau pendapatan dari memproduksi output. GDP diartikan sebagai total dari pendapatan faktor produksi (gaji, bunga, sewa, dan laba) yang merupakan biaya dari memproduksi barang-barang jadi masyarakat. Karena laba diartikan sebagai biaya sisa, maka kedua pendekatan tersebut akan menghasilkan nilai total GDP yang sama.

Dengan menghitung total biaya atau penghasilan dari input yang mneghasilkan output.
GDP = W + I + R + P (Wage + Interest + Rent + Profit )

Laba adalah apa yang tersisa dari penjualan suatu produk setelah pembayaran biaya-biaya faktor lain.

3. The Problem of Double Counting (Permasalahan Perhitungan Ganda).
Value-added approach: To avoid double counting, we take care to include in gross domestic product only final goods and not the intermediate goods that go to make the final goods. By measuring the value added at each stage, taking care to substract expenditures on the intermediate goods bought from other firms, the lower-loop earnings properly avoids all double counting and records wages, interest, rent,and profit exactly one time.

Pendekatan nilai tambah: Untuk menghindari perhitungan ganda, kita berhati-hati untuk memasukkan dalam gross domestik produk hanya barang jadi dan bukan barang setengah jadi yang pada akhirnya akan menjadi barang jadi. Dengan mengukur nilai tambah pada masing-masing tahap, berhati-hatilah dalam mengurangi pengeluaran atas barang-barang setengah jadi yang dibeli dari perusahaan-perusahaan lain, pendekatan penghasilan puataran bagian bawah dengan tepat mengurangi semua penghitungan ganda dan mencatat upah, bunga, sewa, dan laba persis hanya satu kali.

4. Real vs Nominal GDP: “Deflating” GDP by a Price Index. 
(GDP Rill vs Nominal: “Menurunkan” GDP dengan Indeks Harga)


GDP nominal merupakan nilai uang keseluruhan dari barang dan jasa yang diproduksi dalam satu tahun, dimana nilai-nilainya dinyatakan dalam harga pasar setiap tahun

GDP riil memperbaiki GDP nominal dengan menilai output dalam harga suatu tahun dasar, menciptakan sebuah ukuran dollar konstan suatu output.

Perbedaan antara GDP nominal dan GDP real disebut GDP deflator. GDP deflator : Nominal GDP/Real GDP = index harga. misal GDP deflator /indext harga =0,74 berarti harga output turun 36% dari harga dasar.. Jika 1,5 artinya harga2 naik 50% dari harga dasar.

dalam buku GDP real = nominal GDP/indeks harga GDP

Indeks Harga dan Inflasi
Indeks harga merupakan suatu ukuran tingkat harga rata-rata. Inflasi merupakan kenaikan di dalam tingkat harga umum. Laju inflasi merupakan laju perubahan tingkat harga umum dan diiukur sebagai berikut :
Laju Inflasi :
Tingkat Harga (tahun t) – Tingkat Harga (tahun t-1) x 100
Tingkat Harga (Tahun t-1)
Suatu indeks harga merupakan rata-rata penimbangan harga dari sejumlah barang dan jasa. Yang terpenting dari indeks harga adalah Indeks Konsumen, deflator GDP, dan Indeks Harga Produsen.
Indeks Harga disusun dengan memberi bobot setiap harga menurut kepentingan ekonomi dan komoditas yang sedang dibicarakan.

The Producer Price Index (PPI)
Timbangan tetap yang digunakan untuk menghitung PPI adalah penjualan netto dari setiap komoditas. Karena detilnya yang besar, indeks ini digunakan secara luas oleh bisnis.

Komponen GDP

konsumsi : meliputi konsumsi durabel goods / barang tahan lama seperti mobil, nondurabel goods seperti makanan dan jasa seperti jasa dokter.

investasi: konsumsi atas barang modal meliputi barang modal berwujud (tangible capital) dan tidak berwujud (intangible capital). Net investment = gross investmen- depreciation

pengeluaran pemerintah: pengeluaran pemerintah untuk barang dan jasa.tidak termasuk transfer pembayaran, pembayaran bunga, subsidi

net exports: selisih antara export dan impor barang dan jasa.


Gross Domestik Produk (GDP), Net Domestik Produk (NDP) dan Gross National Produk (GNP)

NDP = GDP- depresiasi

GDP : total produk / output barang dan jasa yang diproduksi dalam wilayah suatu negara
GNP : total produk/output barang dan jasa yang diproduksi oleh seluruh warga negara baik di dalam/di luar

5. From GDP to Disposible Income (Dari GDP ke Pendapatan Disposible)
To help us understand movements in personal consumption and saving, we often need to measure the total income received by households. For this, we have a monthly series of data on personal income or PI. PI represents all income, whether as earnings on factors or as transfers, actually received by households. How many dollars per year do private individuals and families have available to spend? The concept of disposable income tries to answer this question. To get disposable income, we simply substract personal taxes from personal income. Disposible income is what actually gets into public’s hands, to dispose of as it pleases.

Untuk membantu kita mengerti pergerakan dalam konsumsi dan tabungan pribadi, kita perlu untuk mengukur total pendapatan yang diterima oleh rumah tangga. Dalam hal ini, kita memiliki sebuah seri data bulanan dalam personal income atau PI. PI merupakan semua pendapatan, baik sebagai pendapatan faktor atau transfer, yang sesungguhnya diterima oleh rumah tangga. Berapa banyak dollar per tahun yang seharunsnya disediakan tiap orang dan keluarga untuk dibelanjakan? Konsep Disposible Income mencoba menjawab pertanyaan ini. Untuk mendapat nilai DI, kita secara sederhana mengurangi pajak pribadi dari PI. DI adalah apa yang sesungguhnya ada pada tangan publik, untuk digunakan sebagaimana diinginkan.




SOAL CHAPTER 5
1) Definisikan dengan hati-hati yang berikut ini dan berilah contoh masing-masing:
a. Konsumsi : keseluruhan pengeluaran rumah tangga akan barang dan jasa pada suatu perekonomian dalam kurun waktu tertentu.
b. Investasi domestik pribadi bruto : tambahan modal yang digunakan investor (pribadi) dalam peningkatan produksi sebelum depresiasi.
c. Konsumsi pemerintah dan pembelian investasi (dalam GDP) : semua pengeluaran pemerintah (seperti pengeluaran gaji karyawan) ditambah biaya barang yang dibelinya dari swasta (seperti laser, jalan-jalan, dan pesawat udara).
d. Pembayaran transfer pemerintah (bukan dalam GDP) : pembayaran pemerintah kepada individu-individu yang tidak dilakukan untuk pertukaran barang atau jasa yang disuplai.
e. Ekspor : kegiatan menjual barang yang dihasilkan oleh negeri sendiri ke luar negeri.

2) Anda kadang-kadang mendengar, “Anda tidak dapat menambah apel dan jeruk.” Tunjukkan bahwa kita dapat dan memang menambah apel dan jeruk dalam perhitungan nasional. Jelaskan caranya!
Apel dan jeruk dapat ditambahkan dalam komponen perhitungan pendapatan nasional (GDP) dengan memasukannya dalam unsur konsumsi (C), yakni pengeluaran konsumsi terhadap barang-barang yang tidak tahan lama (non-durable goods). Setiap tambahan apel dan konsumsi yang terjadi, secara sederhana, hal tersebut dapat langsung dimasukan dalam perhitungan pendapatan nasional pendekatan pengeluaran.

3) Amatilah data pada apendiks Bab 4. Tempatkan angka-angka untuk GDP nominal dan GDP riil untuk tahun 1999 dan 1998. Hitunglah deflator GDP! Berapakah angka pertumbuhan dari GDP nominal dan GDP riil untuk tahun 1999? Berapakah angka inflasi (seperti diukur dengan deflator GDP) untuk tahun 1999?
SAMPLE CALCULATION OF GDP DEFLATOR
Date
Nominal GDP
(billions of current dollars)
Real GDP (billions of dollars)
Index Number of Prices (GDP Deflator)
1998
8759,9
8495,7
8759,9 = 1,03
       8495,7
1999
9256,1
8848,2
9256,1 = 1,04
       8848,2
  • Pertumbuhan GDP nominal tahun 1999 = (9256,1 – 8759,9) = 0,05
8759,9
  • Pertumbuhan GDP riil tahun 1999 = (8848,2 – 8495,7) = 0,04
8495,7
  • Angka Inflasi tahun 1999 = (1,04 – 1,03) x 100% = 0,97% (naik 0,97%)
1,03
4) Robinson Crusoe menghasilkan produk putaran-bagian-atas sebesar $1000. Ia membayar $750 untuk upah, $125 untuk bunga, dan $75 untuk uang sewa. Berapakah seharusnya keuntungannya? Jika tiga perempat dari outputnya dikonsumsi dan sisanya diinvestasikan, hitunglah GDP tanah Crusoe baik dengan pendekatan produk atau dengan pendekatan pendapatan dan tunjukkan bahwa keduanya sama persis!
  • Crusoe’s profit = $1000 – ($750 + $125 + $75) = $50.
NATIONAL PRODUCT ACCOUNT
Flow of Product Approach
Earnings or Cost Approach
Consumption = (3/4 x $1000) = $750
Investment = (1/4 x $1000) = $250
Final Output = $1000
GDP total = $1000
Cost or Earnings
Wages = $750
Rents = $ 75
Interest = $125
Profit (residual) = $ 50
GDP total = $1000

5) Inilah beberapa permainan pemikiran. Dapatkah Anda melihat mengapa yang berikut ini tidak dihitung di dalam GDP Amerika Serikat?
  1. Makanan ahli pencicip yang dihasilkan oleh tukang masak pandai!
Kegiatan produksi yang tidak lewat pasar (non-pasar) tidak dimasukkan dalam perhitungan pendapatan nasional, seperti produksi untuk diri sendiri karena akan sangat sulit bagi suatu negara untuk menghitung konsumsi dan produksi yang sifatnya sangat kecil dan kompleks.

  1. Pembelian sebidang tanah!
Mari kita meninjau permasalahan tersebut dari segi perhitungan pendekatan pendapatan dan arus produk, yakni sisi konsumsi dan investasi (karena hanya dua variabel tersebutlah yang paling mendekati permasalahan diatas) :
· Pembelian sebidang tanah bukan kegiatan konsumsi karena konsumsi adalah kegiatan menghabiskan nilai guna dari barang dan jasa.
· Pembelian sebidang tanah bukan kegiatan investasi karena belum digunakan untuk peningkatan produksi di masa yang akan datang.

  1. Pembelian lukisan asli Rembrant!
Lukisan asli Rembrant merupakan lukisan satu-satunya dan hanya dapat dibeli oleh satu orang saja. Pembelian ini tidak dapat dimasukkan dalam penghitungan GDP karena sifatnya masih tergolong non-pasar.

  1. Nilai yang saya dapatkan pada tahun 2000 dari memutar sebuah compact disc tahun 1997!
Pernyataan di atas tidak dengan jelas menyatakan hubungan langsung dengan GDP Amerika Serikat. Atau asumsi lainnya, “nilai” yang diperoleh tersebut tidak jelas karena tidak dalam bentuk numerik yang dapat dianalisis secara matematis.

  1. Kerusakan pada rumah dan ladang dari polusi yang dikeluarkan oleh peralatan elektrik!
Penghitungan GDP mengabaikan beberapa dampak sampingan aktivitas ekonomi yang merugikan sehingga masalah di atas tidak dimasukkan dalam GDP.

  1. Keuntungan yang diperoleh oleh IBM atas produksi pada sebuah pabrik di Inggris!
Keuntungan IBM tidak bisa dimasukkan dalam GDP Amerika Serikat karena IBM yang mendapat keuntungan tersebut berada di Inggris, bukan di Amerika Serikat. Kebenarannya adalah keuntungan IBM akan dimasukkan dalam GNP Amerika Serikat atau GDP Inggris.

6) Perhatikan negara Agrovia, dimana GDP-nya dibahas dalam “Contoh Numerik”. Susunlah serangkaian perhitungan nasional seperti pada Tabel 5-6 yang mengasumsikan bahwa gandum seharga $5 per gantang, tidak ada depresiasi, upahnya tiga-perempat dari output nasional, pajak bisnis tidak langsung digunakan untuk membiayai 100% pengeluaran pemerintah, dan neraca pendapatan berlaku sebagai pendapatan!
GROSS DOMESTIC PRODUCT OF AGROVIA
Flow of Product Approach
Earnings or Cost Approach
1. Personal Consumption $435
2. Gross Privat Domestic Investment $ 30
3. Government Purchases of
Goods and services $ 50
4. Net Export $-15
Exports $20
Imports $35 _____
GDP $500
1. Wages and other employee
supplements $375
2. Indirect business taxes $ 50
3. Income $ 75
GDP $500
7) Tinjaulah kembali bahasan mengenai kecenderungan dalam CPI. Jelaskan mengapa kegagalan dalam mempertimbangkan perbaikan kualitas dari suatu barang baru membawa kepada kecenderungan ke arah atas dalam trend CPI. Ambillah salah satu yang Anda ketahui dengan baik. Jelaskan bagaimana kualitasnya telah berubah dan mengapa mungkin sulit bagi suatu indeks harga untuk menangkap peningkatan dalam kualitas!

Peningkatan kualitas barang baru dalam perhitungan CPI jelas sangat memengaruhi indeks harga tersebut. Permintaan akan suatu komoditi jelas akan berubah karena adanya peningkatan kualitas barang dan tentunya bisa juga merubah harga komoditi tersebut. Kegagalan dalam mempertimbangkan perbaikan kualitas barang baru akan membawa kecenderungan ke arah atas dalam trend CPI karena asumsi bobotnya tetap sama dan tentu saja akan membuat CPI tidak lagi akurat. Kesulitan CPI untuk menagkap peningkatan dalam kualitas barang disebabkan oleh kompleksnya setiap perubahan yang terjadi dan jika perubahannya dapat diidentifikasi, maka hal tersebut tidak dapat selesai dengan cepat serta belum tentu akurat.

8) Pada dasawarsa baru-baru ini, para wanita telah bekerja lebih panjang dalam pekerjaan-pekerjaan yang dibayar dan bekerja lebih pendek dalam pekerjaan rumah yang tidak dibayar.
  1. Bagaimana peningkatan dalam jam kerja ini akan memengaruhi GDP?
Peningkatan jam kerja tersebut jelas akan memengaruhi GDP, setidaknya akan menambah GDP karena peningkatan produktivitas tenaga kerja akan meningkatkan pendapatan (wages) dari pekerja. Secara eksplisit, hal tersebut juga akan meningkatkan Disposible Income dari pekerja tersebut.
  1. Jelaskan mengapa peningkatan dalam GDP yang terukur ini akan memperbesar peningkatan yang sesungguhnya di dalam output. Jelaskan juga bagaimana serangkaian perhitungan nasional tambahan yang memasukkan produksi rumah tangga akan memperlakukan perubahan ini dari pekerjaan non-pasar kepada pekerjaan pasar!
Sangat jelas bahwa peningkatan GDP ini adalah akibat dari peningkatan jam kerja dan produktivitas yang pada akhirnya akan meningkatkan output yang dihasilkan. Tambahan pendapatan tersebut akan meningkatkan minat masyarakat yang bekerja dalam pekerjaan rumah yang tidak dibayar (pekerjaan non-pasar) untuk beralih pada pekerjaan pasar yang lebih menguntungkan. Dengan kata lain, penawaran akan tenaga kerja akan meningkat akibat hal tersebut.

  1. Jelaskan paradoks ini, “Ketika seseorang menikahi tukang kebunnya, GDP menjadi turun.”!
Hal ini dapat terjadi jika sudut pandangnya dilihat dari GDP bersama. Kalimat “menikahi tukang kebunnya” mengindikasikan bahwa yang menikah dengan tukang kebun adalah majikan tukang kebun tersebut, atau setidaknya dia adalah orang yang memiliki pendapatan lebih besar dari seorang tukang kebun. Paradoksal tersebut menyiratkan bahwa akumulasi GDP “seakan turun” karena seseorang menikah dengan tukang kebun yang notabennya pendapatan tukang kebun lebih kecil dari orang tersebut.
Buku Acuan: Economics (Samuelson)